DINAMIKA KONFLIK dalam
Orgaisasi
Disusun oleh
:
- Azhari
Latar
- Celcia
Marantika
- Danu
Aminullah
- Luh Putu Krisna Y
- Nadhia
Fa’jrun
KATA PENGANTAR
Segala puji kami panjatkan kepada
Tuhan pencipta alam semesta, yang menjadikan bumi dan isinya dengan begitu
sempurna. Tuhan yang menjadikan setiap apa yang ada di bumi, sebagai
penjelajahan bagi kaum yang berfikir. Dan sungguh berkat limpahan rahmat –Nya
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini demi memenuhi tugas mata
kuliah Pengantar Manajemen.
Penyusunan makalah ini dapat
terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan banyak terima kasih. Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih
banyak terdapat kekurangan, sehingga dengan segala kerendahan hati kami
mengaharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun, demi lebih baiknya
kinerja kami selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan tambahan ilmu
pengetahuan dan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tidak
satu organisasi pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau
dengan kelompok organisasi lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan
hilangnya organisasi itu sendiri.
Konflik
di latar belakangi oleh perbedaan ciri – ciri yang dibawa individu dalam suatu
interaksi. Perbedaan – perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri
fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, kayakinan, dan lain sebagainya.
Dengan dibawa sertanya ciri – ciri individual dalam interaksi sosial, konflik
merupakan situasi yang wajar dalam setiap organisasi.
Konflik
bertentangan dengan integrasi. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan
integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
1.2. Rumusan Maasalah
Rumusan
masalah dari makalah ini adalah :
1.
Apa saja jenis konflik?
2.
Faktor apa yang
menyebabkan konflik?
3.
Bagaimana cara menyelesaikan
konflik?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah :
1.
Memenuhi tugas mata
kuliah pengantar manajemen
2.
Menambah pengetahuan
tentang konflik – konflik yang ada di dalam organisasi
1.4. Manfaat Makalah
Manfaat
dari pembuatan makalah ini sebagai referensi tambahan dalam pembelajaran pengantar
manajemen.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian
Dinamika
memiliki arti ilmu yang mempelajari dan mengandung arti sebuah kekuatan yang
selalu bergerak dan berkembang untuk dapat menyesuaikan diri pada suatu keadaan
sesuai dengan gaya penyebabnya.
Konflik
adalah suatu proses dimana antara dua atau lebih kelompok memiliki suatu
pertentangan dan tidak menemukan jalan keluar yang baik, sehingga mereka
melakukan hal – hal negatif seperti mencederai, melenyapkan lawan atau
menyisihkan lawan.
Organisasi
adalah wadah atau tempat dari sekumpulan orang dimana mereka dapat
mendistribusikan sesuatu demi tercapainya suatu tujuan yang sama.
Berdasarkan
definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa Dinamika Konflik dalam Organisasi
adalah suatu keadaaan yang selalu berubah, dimana terdapat sebuah perkumpulan
yang memiliki tujuan masing – masing dan tidak selaras dalam perjalanannya
sehingga menimbulkan berbagai masalah baru yang merugikan banyak pihak.
2.2. Jenis Jenis Konflik
Terdapat
berbagai macam jenis konflik, tergantung pada dasar yang digunakan untuk
membuat klasifikasi. Ada yang membagi konflik atas dasar fungsinya, ada
pembagian atas dasar pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, dan sebagainya.
1.
Konflik Dilihat dari Fungsi
Berdasarkan
fungsinya, Robbins (1996:430) membagi konflik menjadi dua macam, yaitu: konflik
fungsional (Functional Conflict) adalah konflik yang mendukung pencapaian
tujuan kelompok, dan memperbaiki kinerja kelompok. Sedangkan konflik
disfungsional (Dysfunctional Conflict) adalah konflik yang merintangi
pencapaian tujuan kelompok.
2.
Konflik Dilihat dari
Pihak yang Terlibat di Dalamnya
Berdasarkan
pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik, Stoner dan Freeman (1989:393)
membagi konflik menjadi enam macam, yaitu:
1.
Konflik dalam diri
individu (conflict within the individual). Konflik ini terjadi jika seseorang
harus memilih tujuan yang saling bertentangan, atau karena tuntutan tugas yang
melebihi batas kemampuannya.
2.
Konflik antar-individu
(conflict among individuals). Terjadi karena perbedaan kepribadian (personality
differences) antara individu yang satu dengan individu yang lain.
3.
Konflik antara individu
dan kelompok (conflict among individuals and groups). Terjadi jika individu
gagal menyesuaikan diri dengan norma - norma kelompok tempat ia bekerja.
4.
Konflik antar kelompok
dalam organisasi yang sama (conflict among groups in the same organization).
Konflik ini terjadi karena masing - masing kelompok memiliki tujuan yang
berbeda dan masing-masing berupaya untuk mencapainya.
5.
Konflik antar organisasi
(conflict among organizations). Konflik ini terjadi jika tindakan yang
dilakukan oleh organisasi menimbulkan dampak negatif bagi organisasi lainnya.
Misalnya, dalam perebutan sumberdaya yang sama.
6.
Konflik antar individu
dalam organisasi yang berbeda (conflict among individuals in different
organizations). Konflik ini terjadi sebagai akibat sikap atau perilaku dari
anggota suatu organisasi yang berdampak negatif bagi anggota organisasi yang
lain. Misalnya, seorang manajer public relations yang menyatakan keberatan atas
pemberitaan yang dilansir seorang jurnalis.
3.
Konflik Dilihat dari
Posisi Seseorang dalam Struktur Organisasi
Winardi
(1992:174) membagi konflik menjadi empat macam, dilihat dari posisi seseorang
dalam struktur organisasi. Keempat jenis konflik tersebut adalah sebagai
berikut:
1.
Konflik vertikal, yaitu
konflik yang terjadi antara karyawan yang memiliki kedudukan yang tidak sama
dalam organisasi. Misalnya, antara atasan dan bawahan.
2.
Konflik horizontal, yaitu
konflik yang terjandi antara mereka yang memiliki kedudukan yang sama atau
setingkat dalam organisasi. Misalnya, konflik antar karyawan, atau antar
departemen yang setingkat.
3.
Konflik garis-staf, yaitu
konflik yang terjadi antara karyawan lini yang biasanya memegang posisi
komando, dengan pejabat staf yang biasanya berfungsi sebagai penasehat dalam
organisasi.
4.
Konflik peran, yaitu
konflik yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang
saling bertentangan. Di samping klasifikasi tersebut di atas, ada juga
klasifikasi lain, misalnya yang dikemukakan oleh Schermerhorn, et al. (1982),
yang membagi konflik atas: substantive conflict, emotional conflict,
constructive conflict, dan destructive conflict.
2.3. Faktor penyebab konflik
Menurut
Robbins (1996), konflik muncul karena ada kondisi yang melatar - belakanginya.
Kondisi tersebut, yang disebut juga sebagai sumber terjadinya konflik, terdiri
dari tiga ketegori, yaitu:
5.
Komunikasi.
Komunikasi yang buruk,
dalam arti komunikasi yang menimbulkan kesalah - pahaman antara pihak-pihak
yang terlibat, dapat menjadi sumber konflik. Suatu hasil penelitian menunjukkan
bahwa kesulitan semantik, pertukaran informasi yang tidak cukup, dan gangguan
dalam saluran komunikasi merupakan penghalang terhadap komunikasi dan menjadi
kondisi anteseden untuk terciptanya konflik.
4.
Struktur.
Istilah struktur dalam
konteks ini digunakan dalam artian yang mencakup: ukuran (kelompok), derajat
spesialisasi yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi
(wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan kelompok, gaya
kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat ketergantungan antara kelompok.
Penelitian menunjukkan bahwa ukuran kelompok dan derajat spesialisasi merupakan
variabel yang mendorong terjadinya konflik. Makin besar kelompok, dan makin
terspesialisasi kegiatannya, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik.
5.
Variabel Pribadi.
Sumber konflik lainnya
yang potensial adalah faktor pribadi, yang meliputi: sistem nilai yang dimiliki
tiap-tiap individu, karakteristik kepribadian yang menyebabkan individu
memiliki keunikan dan berbeda dengan individu yang lain. Kenyataan menunjukkan
bahwa tipe kepribadian tertentu, misalnya, individu yang sangat otoriter,
dogmatik, dan menghargai rendah orang lain, merupakan sumber konflik yang
potensial. Jika salah satu dari kondisi tersebut terjadi dalam kelompok, dan
para karyawan menyadari akan hal tersebut, maka muncullah persepsi bahwa di
dalam kelompok terjadi konflik. Keadaan ini disebut dengan konflik yang
dipersepsikan. Kemudian jika individu terlibat secara emosional, dan mereka
merasa cemas, tegang, frustrasi, atau muncul sikap bermusuhan, maka konflik
berubah menjadi konflik yang dirasakan. Selanjutnya, konflik yang telah
disadari dan dirasakan keberadaannya itu akan berubah menjadi konflik yang
nyata, jika pihak-pihak yang terlibat mewujudkannya dalam bentuk perilaku.
Misalnya, serangan secara verbal, ancaman terhadap pihak lain, serangan fisik,
huru-hara, pemogokan, dan sebagainya.
2.4. Strategi penyelesaian
Konflik
1.
Bersikap proaktif.
Setiap anggota tim harus
turut aktif dalam menyelesaian konflik secara
proaktif.
2.
Komunikasi.
Komunikasi yang lancar
dapat menghindari diri dari kesalahpahaman sehingga lebih mudah dalam menyelesaikan
konflik yang timbul.
3.
Keterbukaan.
Setiap anggota harus
terbuka supaya konflik tidak berlarut-larut dan dapat diselesaikan dengan baik.
Dengan keterbukaan konflik yang terjadi dapat ditangani sehingga menjadi
konflik yang fungsional.
4.
Cari tahu akar masalah.
Anggota tim harus dapat
mencari tahu sumber atau penyebab konflik, supaya kita tahu cara menyelesaikan
konflik tersebut.
5.
Bersikap fleksibel.
Anggota tim harus fleksibel,
sehingga selalu ada jalan untuk memecahkan konflik yang terjadi.
6.
Harus adil.
Bersikap adil artinya
menempatkan diri kita dengan netral. Kita tidak boleh memihak pada salah satu
pihak yang terlibat konflik, apalagi memperkeruh suasana.
7.
Bersekutu.
Untuk menyelasaikan
konflik kita harus mempunyai sikap bersekutu, sehingga tidak ada pihak pihak
yang merasa dirugikan. Berpikirlah metang – matang, dan jangan hanya mau menang
sendiri.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Konflik merupakan hal
yang tidak bisa dihindari dalam sebuah organisasi, disebabkan oleh banyak
faktor yang pada intinya karena organisasi terbentuk dari banyak individu &
kelompok yang memiliki sifat & tujuan yang berbeda satu sama lain.
Kehadiran konflik dalam
suatu organisasi tidak dapat dihindarkan tetapi hanya dapat dieliminir. Konflik
dalam organisasi dapat terjadi antara individu dengan individu, baik individu
pimpinan maupun individu karyawan, konflik individu dengan kelompok maupun
konflik antara kelompok tertentu dengan kelompok yang lain. Tidak semua konflik
merugikan organisasi. Konflik yang ditata dan dikendalikan dengan baik dapat
berujung pada keuntungan organisasi sebagai suatu kesatuan, sebaliknya apabila
konflik tidak ditangani dengan baik serta mengalami eskalasi secara terbuka
dapat merugikan kepentingan organisasi.
Dari referensi tersebut
maka upaya dalam penanganan konflik baik yang
bersifat interpersonal, intergroup maupun interorganization dapat
ditanggulangi dan diselesaikan secara efektif. Hal ini merupakan tantangan
sekaligus sebagai peluang untuk belajar
dan menambah pengalaman para pemimpin atau pengelola organisasi lembaga
pendidikan saat ini maupun masa mendatang.
3.2. Saran
Dengan adanya makalah
ini, diharapkan memberikan sumbangsih kepada
para pembaca mengenai beberapa faktor pemicu konflik dan juga strategi
dalam menyelesaikan konflik. Dengan demikian pembaca dapat mengantisipasi
timbulnya konflik sebelum terjadi. Beberapa saran yang ingin disampaikan oleh
penulis ialah hendaknya para pembaca dapat menyikapi keadaan dengan bijak
sehingga timbulnya konflik dapat dicegah. Jikapun konflik tersebut sudah
terlanjur ada, diharapkan pembaca dpat menempatkan diri sehingga konflik itu
tidak membawa dampak buruk yang seakin meluas.
DAFTAR PUSTAKA
http://carideny.blogspot.co.id/2012/11/jenis-jenis-konflik-penyebab-konlik.html
http://www.academia.edu/6126030/Makalah_konflik_dalam_organisi
http://www.peribahasaindonesia.com/cara-cara-penyelesaian-konflik-dalam-kelompok/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar