Jumat, 13 Januari 2017

dinamika konflik dalam organisasi



DINAMIKA KONFLIK dalam Orgaisasi


Disusun oleh :
                                  - Azhari Latar
- Celcia Marantika
- Danu Aminullah
     - Luh Putu Krisna Y
- Nadhia Fa’jrun                                                     
KATA PENGANTAR

            Segala puji kami panjatkan kepada Tuhan pencipta alam semesta, yang menjadikan bumi dan isinya dengan begitu sempurna. Tuhan yang menjadikan setiap apa yang ada di bumi, sebagai penjelajahan bagi kaum yang berfikir. Dan sungguh berkat limpahan rahmat –Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini demi memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Manajemen.
            Penyusunan makalah ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih. Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, sehingga dengan segala kerendahan hati kami mengaharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun, demi lebih baiknya kinerja kami selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan informasi yang bermanfaat bagi semua pihak.








BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Tidak satu organisasi pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok organisasi lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya organisasi itu sendiri.
Konflik di latar belakangi oleh perbedaan ciri – ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan – perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, kayakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri – ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap organisasi.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
  
1.2.  Rumusan Maasalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah :
1.    Apa saja jenis konflik?
2.    Faktor apa yang menyebabkan konflik?
3.    Bagaimana cara menyelesaikan konflik?



1.3.  Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.    Memenuhi tugas mata kuliah pengantar manajemen
2.    Menambah pengetahuan tentang konflik – konflik yang ada di dalam organisasi

1.4.  Manfaat Makalah
Manfaat dari pembuatan makalah ini sebagai referensi tambahan dalam pembelajaran pengantar manajemen.













BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.  Pengertian
Dinamika memiliki arti ilmu yang mempelajari dan mengandung arti sebuah kekuatan yang selalu bergerak dan berkembang untuk dapat menyesuaikan diri pada suatu keadaan sesuai dengan gaya penyebabnya.
Konflik adalah suatu proses dimana antara dua atau lebih kelompok memiliki suatu pertentangan dan tidak menemukan jalan keluar yang baik, sehingga mereka melakukan hal – hal negatif seperti mencederai, melenyapkan lawan atau menyisihkan lawan.
Organisasi adalah wadah atau tempat dari sekumpulan orang dimana mereka dapat mendistribusikan sesuatu demi tercapainya suatu tujuan yang sama.
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa Dinamika Konflik dalam Organisasi adalah suatu keadaaan yang selalu berubah, dimana terdapat sebuah perkumpulan yang memiliki tujuan masing – masing dan tidak selaras dalam perjalanannya sehingga menimbulkan berbagai masalah baru yang merugikan banyak pihak.

2.2.  Jenis Jenis Konflik
Terdapat berbagai macam jenis konflik, tergantung pada dasar yang digunakan untuk membuat klasifikasi. Ada yang membagi konflik atas dasar fungsinya, ada pembagian atas dasar pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, dan sebagainya.
1.     Konflik Dilihat dari Fungsi
Berdasarkan fungsinya, Robbins (1996:430) membagi konflik menjadi dua macam, yaitu: konflik fungsional (Functional Conflict) adalah konflik yang mendukung pencapaian tujuan kelompok, dan memperbaiki kinerja kelompok. Sedangkan konflik disfungsional (Dysfunctional Conflict) adalah konflik yang merintangi pencapaian tujuan kelompok.
2.    Konflik Dilihat dari Pihak yang Terlibat di Dalamnya
Berdasarkan pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik, Stoner dan Freeman (1989:393) membagi konflik menjadi enam macam, yaitu:
1.    Konflik dalam diri individu (conflict within the individual). Konflik ini terjadi jika seseorang harus memilih tujuan yang saling bertentangan, atau karena tuntutan tugas yang melebihi batas kemampuannya.
2.    Konflik antar-individu (conflict among individuals). Terjadi karena perbedaan kepribadian (personality differences) antara individu yang satu dengan individu yang lain.
3.    Konflik antara individu dan kelompok (conflict among individuals and groups). Terjadi jika individu gagal menyesuaikan diri dengan norma - norma kelompok tempat ia bekerja.
4.    Konflik antar kelompok dalam organisasi yang sama (conflict among groups in the same organization). Konflik ini terjadi karena masing - masing kelompok memiliki tujuan yang berbeda dan masing-masing berupaya untuk mencapainya.
5.    Konflik antar organisasi (conflict among organizations). Konflik ini terjadi jika tindakan yang dilakukan oleh organisasi menimbulkan dampak negatif bagi organisasi lainnya. Misalnya, dalam perebutan sumberdaya yang sama.
6.    Konflik antar individu dalam organisasi yang berbeda (conflict among individuals in different organizations). Konflik ini terjadi sebagai akibat sikap atau perilaku dari anggota suatu organisasi yang berdampak negatif bagi anggota organisasi yang lain. Misalnya, seorang manajer public relations yang menyatakan keberatan atas pemberitaan yang dilansir seorang jurnalis.
3.    Konflik Dilihat dari Posisi Seseorang dalam Struktur Organisasi
Winardi (1992:174) membagi konflik menjadi empat macam, dilihat dari posisi seseorang dalam struktur organisasi. Keempat jenis konflik tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Konflik vertikal, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan yang memiliki kedudukan yang tidak sama dalam organisasi. Misalnya, antara atasan dan bawahan.
2.    Konflik horizontal, yaitu konflik yang terjandi antara mereka yang memiliki kedudukan yang sama atau setingkat dalam organisasi. Misalnya, konflik antar karyawan, atau antar departemen yang setingkat.
3.    Konflik garis-staf, yaitu konflik yang terjadi antara karyawan lini yang biasanya memegang posisi komando, dengan pejabat staf yang biasanya berfungsi sebagai penasehat dalam organisasi.
4.    Konflik peran, yaitu konflik yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang saling bertentangan. Di samping klasifikasi tersebut di atas, ada juga klasifikasi lain, misalnya yang dikemukakan oleh Schermerhorn, et al. (1982), yang membagi konflik atas: substantive conflict, emotional conflict, constructive conflict, dan destructive conflict.

2.3.  Faktor penyebab konflik
Menurut Robbins (1996), konflik muncul karena ada kondisi yang melatar - belakanginya. Kondisi tersebut, yang disebut juga sebagai sumber terjadinya konflik, terdiri dari tiga ketegori, yaitu:
5.    Komunikasi.
Komunikasi yang buruk, dalam arti komunikasi yang menimbulkan kesalah - pahaman antara pihak-pihak yang terlibat, dapat menjadi sumber konflik. Suatu hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan semantik, pertukaran informasi yang tidak cukup, dan gangguan dalam saluran komunikasi merupakan penghalang terhadap komunikasi dan menjadi kondisi anteseden untuk terciptanya konflik.
4.    Struktur.
Istilah struktur dalam konteks ini digunakan dalam artian yang mencakup: ukuran (kelompok), derajat spesialisasi yang diberikan kepada anggota kelompok, kejelasan jurisdiksi (wilayah kerja), kecocokan antara tujuan anggota dengan tujuan kelompok, gaya kepemimpinan, sistem imbalan, dan derajat ketergantungan antara kelompok. Penelitian menunjukkan bahwa ukuran kelompok dan derajat spesialisasi merupakan variabel yang mendorong terjadinya konflik. Makin besar kelompok, dan makin terspesialisasi kegiatannya, maka semakin besar pula kemungkinan  terjadinya konflik.
5.    Variabel Pribadi.
Sumber konflik lainnya yang potensial adalah faktor pribadi, yang meliputi: sistem nilai yang dimiliki tiap-tiap individu, karakteristik kepribadian yang menyebabkan individu memiliki keunikan dan berbeda dengan individu yang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa tipe kepribadian tertentu, misalnya, individu yang sangat otoriter, dogmatik, dan menghargai rendah orang lain, merupakan sumber konflik yang potensial. Jika salah satu dari kondisi tersebut terjadi dalam kelompok, dan para karyawan menyadari akan hal tersebut, maka muncullah persepsi bahwa di dalam kelompok terjadi konflik. Keadaan ini disebut dengan konflik yang dipersepsikan. Kemudian jika individu terlibat secara emosional, dan mereka merasa cemas, tegang, frustrasi, atau muncul sikap bermusuhan, maka konflik berubah menjadi konflik yang dirasakan. Selanjutnya, konflik yang telah disadari dan dirasakan keberadaannya itu akan berubah menjadi konflik yang nyata, jika pihak-pihak yang terlibat mewujudkannya dalam bentuk perilaku. Misalnya, serangan secara verbal, ancaman terhadap pihak lain, serangan fisik, huru-hara, pemogokan, dan sebagainya.

2.4.  Strategi penyelesaian Konflik
1.    Bersikap proaktif.
Setiap anggota tim harus turut aktif dalam menyelesaian konflik secara  proaktif.
2.    Komunikasi.
Komunikasi yang lancar dapat menghindari diri dari kesalahpahaman sehingga lebih mudah dalam menyelesaikan konflik yang timbul.
3.    Keterbukaan.
Setiap anggota harus terbuka supaya konflik tidak berlarut-larut dan dapat diselesaikan dengan baik. Dengan keterbukaan konflik yang terjadi dapat ditangani sehingga menjadi konflik yang fungsional.
4.    Cari tahu akar masalah.
Anggota tim harus dapat mencari tahu sumber atau penyebab konflik, supaya kita tahu cara menyelesaikan konflik tersebut.
5.    Bersikap fleksibel.
Anggota tim harus fleksibel, sehingga selalu ada jalan untuk memecahkan konflik yang terjadi.
6.    Harus adil.
Bersikap adil artinya menempatkan diri kita dengan netral. Kita tidak boleh memihak pada salah satu pihak yang terlibat konflik, apalagi memperkeruh suasana.
7.    Bersekutu.
Untuk menyelasaikan konflik kita harus mempunyai sikap bersekutu, sehingga tidak ada pihak pihak yang merasa dirugikan. Berpikirlah metang – matang, dan jangan hanya mau menang sendiri.





















BAB III
PENUTUP

3.1.  Kesimpulan
Konflik merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam sebuah organisasi, disebabkan oleh banyak faktor yang pada intinya karena organisasi terbentuk dari banyak individu & kelompok yang memiliki sifat & tujuan yang berbeda satu sama lain.
Kehadiran konflik dalam suatu organisasi tidak dapat dihindarkan tetapi hanya dapat dieliminir. Konflik dalam organisasi dapat terjadi antara individu dengan individu, baik individu pimpinan maupun individu karyawan, konflik individu dengan kelompok maupun konflik antara kelompok tertentu dengan kelompok yang lain. Tidak semua konflik merugikan organisasi. Konflik yang ditata dan dikendalikan dengan baik dapat berujung pada keuntungan organisasi sebagai suatu kesatuan, sebaliknya apabila konflik tidak ditangani dengan baik serta mengalami eskalasi secara terbuka dapat merugikan kepentingan organisasi.
Dari referensi tersebut maka upaya dalam penanganan konflik baik yang  bersifat interpersonal, intergroup maupun interorganization dapat ditanggulangi dan diselesaikan secara efektif. Hal ini merupakan tantangan sekaligus sebagai  peluang untuk belajar dan menambah pengalaman para pemimpin atau pengelola organisasi lembaga pendidikan saat ini maupun masa mendatang.

3.2.  Saran
Dengan adanya makalah ini, diharapkan memberikan sumbangsih kepada  para pembaca mengenai beberapa faktor pemicu konflik dan juga strategi dalam menyelesaikan konflik. Dengan demikian pembaca dapat mengantisipasi timbulnya konflik sebelum terjadi. Beberapa saran yang ingin disampaikan oleh penulis ialah hendaknya para pembaca dapat menyikapi keadaan dengan bijak sehingga timbulnya konflik dapat dicegah. Jikapun konflik tersebut sudah terlanjur ada, diharapkan pembaca dpat menempatkan diri sehingga konflik itu tidak membawa dampak buruk yang seakin meluas.




















DAFTAR PUSTAKA

http://carideny.blogspot.co.id/2012/11/jenis-jenis-konflik-penyebab-konlik.html
http://www.academia.edu/6126030/Makalah_konflik_dalam_organisi
http://www.peribahasaindonesia.com/cara-cara-penyelesaian-konflik-dalam-kelompok/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar