Daksina
![]() |
|||||
![]() |
|||||
![]() |
|||||
Nama : Luh Putu Krisna Yanti
Kelas : XI
KATA PENGANTAR
Om Swastyastu
Puji syukur saya panjatkan
kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, atas asung kertha wara
nugrahanyalah sehingga penyusun makalah ini yang berjusul “Daksina” ini dapat
terselesaikan dengan baik pada batas waktu yang sudah ditentukan.
Dalam penyusunan
makalah ini saya menghadapi kendala, baik dari segi penyusunan kata-kata
maupun dari segi penyajiannya, saya juga menyadari bahwa makalah ini masih
banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saya sangat
mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman yang sifatnya kontraktif,
khususnya bagi Ibu guru pembimbing, sekiranya dapat memberikan masukan demi
pencapaian kesempurnaan makalah ini.
Tidak lupa saya
menyampaikan, ucapan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada guru pembimbing
serta pihak-pihak yang dapat membantu penulis dalam penyusunan makalah ini,
akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.
Om Santih, Santih,
Santih Om
Jakarta, Januari
2014
Penulis
Definisi
DAKSINAberasal dari
kata sansekerta yang berarti upah, daksina juga bisa bermakna selatan dan nama
sebuah banten. Isi dari daksina yakni kelapa, uang,telur bebek dan biji-bijian.
Daksina adalah sarana upacara jejahitan berbentuk silinder terbuat dari daun
kelapa tua menyerupai suatu wadah yang disebut wakul daksina .Daksina adalah
sesajen yang dibuat untuk tujuan kesaksian spiritual.
Daksina juga dipergunakan sebagai persembahan atau
dimana daksina berfungsi sebagai tanda "terima kasih" kepada
sekala-niskala. Begitu juga kalau daksina itu kita haturkan kehadapan Hyang
Widhi sebagai pelengkap haturan kita dan sembah sujud kita atas karunia-Nya.Daksina
selalu menyertai banten-banten yang agak besar . Daksina melambangkan Hyang
Guru/ Hyang Tunggal (Dewa Siwa ).Daksina juga merupakan buah daripada yadnya.,
DAKSINA adalah
salah satu jenis sarana upacara yang dibuat dengan daun kelapa sehingga
menyerupai suatu wadah seperti bakul yang dalam bahasa bali di sebut wakul
daksina. Dan didalam wakul ini di isi berbagai macam benda yang merupakan
perlengkapan dari daksina tersebut. Jika kita melihat isi dari dasarnya,
didalam wakul sebuah daksina selalu dialasi dengan janur yang dirangkai
membentuk tanda tambah (+) yang disebut dengan Tapak Dara, yang secara
berturut-turut diatasnya diisi beras dan kelapa, diatas kelapa diisi dengan
kojong yang masing-masing diisi dengan telur, peselan, gantusan, pisang, base
tampel tingkih dan pangi, diatas kelapa diisi dengan benang tatebus warna
putih. Dan diatasnya ditambahkan dengan canang payasan yang sering juga disebut
dengan pasucian/pangresikan. Daksina juga diisi sasari/uang. Daksina secara
utuh dalam penggunaannya biasanya dirangkaikan dengan jenis upakara yang lain
seperti : peras, ajuman dan yang lainnya. Namun daksina juga bisa berdiri
sendiri apabila daksina tersebut berfungsi sebagai daksina linggih. Namun
biasanya daksina linggih ini ditambahka dengan cili yang bermakna sebagai
simbol wajah.
Macam
macam Daksina
Daksina
kelipatan 1 : daksina alit.
Daksina
kelipatan 2: daksina pakala-kalaan (Manusa Yajna).
Daksina
kelipatan 3: daksina krepa (Rsi Yajna).
Daksina
kelipatan 4: daksina gede/pamogpog (upacara besar).
Daksina
kelipatan 5: daksina galahan.
Simbolik Bahan bahan Daksina :
1. Tapak Dara (+) yang berbentuk tanda tambah,
merupakan lambang agama Hindu yaitu Swastika. lambang keseimbangan baik
makrokosmos maupun mikrokosmos. secara vertical dan horizontal
2. Beras adalah makanan pokok
kehidupan, sebagai simbol benih kehidupan.
3. Kelapa merupakan simbol Pawitra (air
keabadian) atau lambang bumi/alam semesta
4. Telur yang digunakan dalam daksina telor
itik; dibungkus dengan ketupat telor, adalah lambang awal kehidupan
, lambang Bhuana Alit yang menghuni bumi ini,
5. Peselan. ini terdiri dari lima jenis
dedaunan yang mewakili lima warna yaitu daun durian warna putih lambang Isvara,
daun manggis warna merah lambang Brahma, daun langsat / ceroring warna
kuning lambang Mahadeva, daun salak warna brumbun lambang Visnu, daun nangka
atau timbul warna hijau lambang Siva. Papeselan juga merupakan lambang
kerjasama (Tri Hita Karana). :
6. Gantusan yaitu yang dibungkus daun pisang (2
bungkus). Yang masing-masing diisi dengan segala jenis ikan teri, bumbu (yang
melambangkan isi darat dan laut) serta biji-bijian (5 macam) yang mempunyai
warna (hitam, putih, merah, kuning dan campuran).
7. Pisang mentah, ditinjau dari segi warnanya adalah
hijau/hitam. Dalam tandingan melambangkan jari.
8. Tingkih dari segi warnanya adalah putih yang melambangkan kesucian.
9. Pangi /Buah
kluwek lambang
pradhana / kebendaan / perempuan, dari segi warna merah (kekuatan). Dalam tetandingan
melambangkan dagu..
10. Base/sirih tampel diikat sedemikian rupa sehingga menjadi satu, porosan
adalah lambang pemujaan .
11. Benang tukelan adalah alat pengikat simbol dari naga Anantabhoga
dan naga Basuki dan naga Taksaka ,penggunaan benang dalam setiap pelaksanaan
upcara keagamaan memiliki makna simbolik sebagai tali penghubung antara yang
memuja dan yang dipuja, sebagai pengikat spiritualitas.
Penggunaan Daksina dalam Upacara Deva Yajna.
Yang dimaksud dengan penggunaan daksina di sini adalah peran serta fungsi
daksina itu sendiri dalam upacara Deva Yajna. Mengingat penggunaan daksina
dalam upacara Deva yajna cukup banyak, baik jumlah maupun jenisnya dan hampir
setiap upacara Deva yajna menggunakan daksina, maka penulis akan mencoba untuk
memaparkan sesuai dengan keterbatasan kemampuan, kegunaan daksina dalam upacara
Deva Yajna saja, yang sesuai dengan penelitian dan kajian yang telah
ditetapkan, dengan harapan dan tujuan tidak akan terjadi kesalahan pemaknaan.
Ada beberapa fungsi Daksina Linggihdalam upacara, yaitu:
a. Daksina Lingggih/pralingga atau Tapakan yang berarti Sthana
Yang artinya tempat duduk. Hal ini dapat kita jumpai pada waktu kita
melaksanakan upacara Deva yajna yaitu disebut upacara nedunang
Bhatara. Upacara ini adalah merupakan upacara permohonan kehadapan Ida
Bhatara (Deva sebagai manifestasi Hyang Widhi) agar beliau berkenan turun hadir
di pura tersebut sedang melaksanakan pujawali/ piodalan, untuk memberikan
waranugraha, menerima an menyaksikan pelaksanaan upacara yajna yang berupa
persembahan oleh umatnya. Adanya istilah Ida Bhatara Tedun (turun) ke pura
adalah karena keyakinan umat Hindu bahwa alam Devata yang suci itu berada di
atas alamnya manusia yakni di alam Svah Loka (sorga). Upacara Ngenteg
Linggih, ialah upacara mensthanakan Ida Bhatara pada Daksina pelimggih yang
telah dipersiapkan sebelumnya dan sekaligus memohon perkenan beliau untuk
berada atau duduk di Pelinggih (bangunan suci) masing-masing. Melalui
upacara Nedunang dan Ngelinggihan ini
nejadikan umat Hindu semakin mantap dapat merasakan kehadiran Hyang Widhi dalam
rangka menyaksikan dan menerima yajna dari umatnya. Daksina Linggih tempatnya
disebut bedogan yang terbuat dari janur. Kemudian bedogan tersebut dialasi
wakul/ bakul dari bambu yang bentuknya menyerupai selinder, di samping wakul
dari bambu masih diberi alas bokor, yaitu sebuah tempat yang menyerupai
mangkok yang terbuat dari emas, perak atau bahan dari logam lainnya. Selanjutnya
diberi serobong yang terbuat dari daun janur atau ental (daun
lontar), adapun gegantusan isinya terdiri dari tampak, beras, benang
tukelan, kelapa, , pesel-peselan, bija ratus, pisang, telur
itik, uang kepeng, khusus untuk daksina linggih/pralingga selain uang
kepeng yang ditempatkan di kojong, juga menggunakan uang kepeng yang
diikat sedemikian rupa sehingga membentuk lingkaran, jumlahnya 225 buah untuk
landasan bawah yang disebut lekeh. Delengkapi dengan canang payasan yang
tempatnya berbentuk segi tiga (ituk-ituk) dilengkapi dengan porosan, merupakan
unsur terpenting yang dibuat dari daun sirih, irisan pinang, dan kapur. Ketiga
bahan ini digabung menjadi satu diikat denga janur, lalu di atas porosan ini
diberi bunga segar dan harum. Bagian luarnya yaitubedongannya diberi
wastra (kain putih kuning seperti layaknya kita memakai kain). Daksina Linggih
ini dilengkapi dengan peperai/wajah/ muka, bisa terbuat dari janur
yang menyerupai cili (berbentuk kipas) atau daun lontar yang dibuat sifatnya permanen
dengan maksud bisa disimpan dan dapat dipergunakan pada waktu kesempatan lain.
Model atau bentuknya bisa dibuat bermacam-macam sesuai sesuai dengan
seni yang membuatnya. Untuk peperai (bentuk/ wajak/ muka) ini bisa juga
dibuat dari bahan kawat, bentuk ini pada kelompok upakara dikenal dengan
nama dendeng ai. Bentuk lain dari pererai ini bisa juga dibuat
dari lempengan kayu cendana, lempengan logam seperti perak, emas, yang
mengembil bentuk lebih riil, yaitu dibuat atau dilukis seperti muka manusia ada
mata, alis, mulut dan sebagainya. Kemudian dihias dengan
menambahkan bunga-bunga segar yang berwarna putih kuning atau bunga yang
dibuat dari emas atau perak. Dengan tambahan kain atau wastra, pererai yang
dihias membuat Daksina Linggih berbeda dari daksina alit/
kecil pada umumnya dalam penampilannya. Daksina Tapakan/Linggih pada
umumnya dipergunakan pada waktu ada pujawali/ Piodalan di pura-pura. Biasanya
daksina ini diletakkan di depan padmasana atau pada bangunan suci di pura yang
sedang melangsungkan upacara piodalan.
b. Daksina sebagai
simbol Hyang Tunggal/ Hyang Guru:
Membuat sarana perlengkapan daksina yang begitu lengkapnya sehingga
dianggap cukup untuk mewakili isi seluruh alam semesta yang ada. Maka dengan
demikian daksina diartikan sebagai satu kesatuan dan sekaligus sebagai simbol
Hyang Tunggal atau Hyang Guru sebagai manifestasi dari Deva Siva sebagai
penguasa alam semesta ini.
c. Daksina sebagai sarana persembahan dalam upacara Yajna:
Daksina adalah sarana perlengkapan yang paling penting dari beberapa jenis
upacara Yajna. Sebesar dan semegah apapun pelaksanaan upacara Deva Yajna,
tanpa menggunakan sarana daksina, maka upacara itu belum dianggap sempurna
karena menggunakan daksina dianggap sebagai media untuk mendekatkan diri dan mewujudkan
kuasa Tuhan, agar tercipta hubungan manusia sebagai bakta yang akan
menyembah Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Esa yang akan disembah.
d. Daksina sebagai cetusan rasa terima kasih:
Daksina dipersembahkan oleh para baktanya, untuk menyampaikan rasa
angayubagia kepada Hyang Widhi beserta manifestasiNya, karena apa yang dimohon
bakta dalam melaksanakan dharmanya sehari-hari sebagai umat Hindu mendapatkan
sesuai yang diinginkan. Fungsi lain dari daksina ini adalah sebagai sarana
untuk media menyempaikan terima kasih kepada para sulinggih atau para pinandita
yang ditugaskan untuk melaksanakan/ memuput upacara, juga sebagai bukti rasa
bhakti para umatnya disatu sisi merupakan bentuk pelayanan para pandita dan
pinandita kepada umatnya.
e. Daksina untuk memohon keselamatan
Sebagai manusia yang sangat menyadari bahwa jauh dari sempurna, sehingga
manusia tidak akan luput dari kesalahan/ khilap serta segala
kekurangan-kekurang an, kesalahan dan lupa karena keterbatasan pikiran maka
perlu melaksanakan permohonan keselamatan. Khususnya bagi para tukang banten
(Serati Banten) kehadiran banten daksina sebagai Sthana Hyang Widhi mutlak
sangat diperlukan. Hyang Widhi sebagai manifestasiNya Sang Hyang Devi Tapeni/
Bhatari Tapeni (Devanya Serati Banten) untuk memohon bimbigan keselamatan,
dalam melaksanakan pembuatan banten untuk upacara Deva Yajna tidak sampai
melakukan kesalahan akibat keterbatasan pikiran seperti, kelupaan. Kebingungan
dan lain sebagainya. Para Serati Banten biasanya jika akan membuat sarana
bebantenan untuk upacara/ upakara maka akan meletakkan daksina disertai
perlengkapan banten yang lain diletakkan di mana sudah disiapkan tempat banten/
pelangkiran di mana para Serati Banten akan bekerja untuk membuat banten.
Daksina tidak saja diperlukan oleh Serati Banten, tetapi juga bagi
tukang-tukang lainnya seperti tukang unagi bangunan, tukang terang, tukang
membuat gayah, tukang gamelan, tukang ukir dan lain-lain yang semua tujuannya
untuk ngaturang piuning supaya dalam melaksanakan tugasnya mendapat bimbingan
dan keselamatan oleh Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa.
f. Daksina sebagai Upasaksi (Lambang Hyang
Guru):
Pengertian upasaksi terdiri dari dua suku kata, yaitu upa dan saksi,
upa dapat diartikan sebagai perantara dan saksi dapat berarti mengetahui. Jadi
upasaksi dapat mengendung pengertian sebagai sarana untuk diketahui atau
mempermaklumkan, dalam hal ini kepada Hyang Widhi dengan manifestasiNya. Tempat
untuk menghaturkan banten upasaksi biasanya dibuat khusus yang diberi
nama Sanggar Upasaksi, Sanggar Surya atau bisa
juga Sanggar Tawang tergantung besar kecilnya upacara yang
dilaksanakan. Sanggar Tawang bisa juga disebut Sanggar
Agung biasanya dibentuk bangunan temporer dari bambu petung atau
batang pinang yang sudah dikupas terlebih dahulu.
Bentuknya dibikin sederhana ruang atas yang dibagi menjadi tiga ruangan,
apabila memakai satu ruangan maka disebutSanggar Surya. Maka sesuai
dengan namanya, maka Sanggar Tawang berarti sthana di angkasa,
dan fungsinya adalah untuk mensthanakan Hyang Widhi sebagai aspeknya,
sebagai Sang Hyang Catur Lokapala atau Hyang Tri Murti. Oleh umat Hindu sangat
diyakini bahwa sthanaNya yang abadi berada di luhuring akasa (di
atas angkasa).Setiap aktifitas ritual umat Hindu dari pelaksanaan upacara yang
sederhana (nista) sampai ketingkatan upacara yang besar (utama) senantiasa
dibuatkan Sanggar Surya atau Sanggar Tawang untuk memohon
kehadiran Hyang Surya guna menyaksikan ketulusan hati umatnya yang sedang
melaksanakan upacara/ Yajna.
Sebagai upasaksi, banten daksina dijadikan sthana Hyang Widhi, apabila
banten daksina tersebut diletakkan pada Sanggar Surya atau Sanggar
Tawang sebagai upasaksi, maka sudah jelaslah fungsinya. Biasanya
banten daksina di Sanggar Surya ataudi Sanggar Tawang tidak
berdiri sendiri, tetapi melengkapi atau menyertai banten-banten yang lainnya,
seperti banten pejati, banten peras, banten Deva-Devi, catur, suci dan banten
lainnya.
g. Daksina sebagai banten pelengkap.
Mengingat daksina sebagai pelengkap banten-banten lainnya seperti
banten pejati, banten pebangkit, banten
pulegembal, dan masih banyak lagi banten yang lainnya yang tidak penulis
sebutkan satu-persatu. Hal ini disebabkan karena upacara/ upakara atau banten
yang digunakan dalam suatu upacara merupakan satu kumpulan ari beberapa jenis
banten yang disebut soroh dan setiap soroh hampir selalu menggunakan daksina
sebagai runtutannya. Adapun kedudukan daksina yang selalu menyertai
banten-banten yang yang lain adalah karena memang unsur yang terdapat dalam
daksina sangatlah lengkap, selain itu daksina merupakan kekuatan atau saktinya
suatu Yajna. Dengan kata lain suatu upakara Yajna akan menjadi sempurna apabila
ada daksinenya. Lebih jelas kita lihat pada upacara Deva Yajna, seperti
melaspas, mecaru, Ngenteg Linggih, Upacara Pujawali, Panca Walikrama dan Eka
Dasa Rudra. Adapun urut-urutan rangkaian upacara yang umum dilaksanakan
adalah sebagai berikut:
Upakara Ngatur Piuning memulai karya (Nuasin Karya), upakara Nuur (Mendak)
Tirtha, upakara untuk Serati Banten (ngelinggihang Sang Hyang Tapini) yaitu
Devanya Serati Banten, Upakara RsiBijana, Upakara Mapapada (pada Sanggar
Pesaksi) yang ditujukan kehadapan Siwa Raditya dan Giripati, dan upakara di
bale PaVedan. Adapun banten daksina yang digunakan disesuaikan dengan besar
kecilnya upakara (nista, madya, utama). Namun umumnya pada upacara Deva Yajna
dapat penulis sebutkan di atas masih kebanyakan menggunakan daksina gede atau
daksina pemogpog di samping daksina pelinggih dan daksina alit.
h. Daksina sebagai sarana penebusan :
Daksina juga berfungsi sebagai penebusan atas kekurangan alam upakara yang
dilaksanakan, terletak pada sesari/ uang. Selain itu uang sesari yang
mengandung juga makna simbol ketulusan hati/ sarining manah. Ada
juga yang menyebut daksina pemogpog yang mengandung makna sebagai menutup
bilamana dalam melaksanakan upakara yajna ada kekurangan, maknanya hampir sama
yaitu untuk penebusan.
Penggunaan Daksina Linggih sebagai pralingga di dalam memuja Hyang Widhi/ Tuhan
Yang Maha Esa dilandasi oleh konsepsi Ketuhanan yang lebih tinggi dari
sebelumnya. Kalau pada jaman Empu Kuturan di Bali pemujaan pada Hyang Widhi
baru hanya sampai tingkat manifestasi beliau yang disebut Deva atau Bhatara.
Maka sejak kedatangan Dangn Hyang Dwijendra ke Bali pemujaan kepada Hyang Widhi
bukan saja melalui Deva/ Bhatara yang merupakan prabawa atau sinar suci dari
Hyang Widhi dapat diwujudkan dalam imajinasi manusia sehingga diproyeksikan
wujud konkrit dalam benda suci yang disebut arca/ pratima sebagai ekspresi
imaginasi abstrak manusia tentang wujud beliau. Maka arca/ pratima itu
berfungsi sebagai pralingga Deva/ Bhatara.
Daksina Pelinggih adalah sebagai Pralingga Hyang Widhi yang merupakan
pengganti dari arca atau pratima. Daksina Pelinggihmempunyai makna
religius karena merupakan simbolnya dari Hyang Widhi atau merupakan
simbolis miniatur kosmis pralingga Hyang Widhi.. Hal ini
dilandasi karena Tuhan bersifat Acintya yang sangat sulit dibayangkan oleh
manusia, karena itu Daksina Pelinggih sebagai miniatur kosmis pralingga Tuhan.
DAKSINA

ISI DAKSINA


Kesimpulan
DAKSINA adalah salah satu jenis sarana upacara yang dibuat dengan daun
kelapa sehingga menyerupai suatu wadah seperti bakul yang dalam bahasa bali di
sebut wakul daksina. Daksina merupakan salah satu unsur terpenting yang harus
ada dalam suatu kegiatan upacara, berhasil tidaknya suatu upacara / ritual
tergantung dari daksina, maka dari itu daksina merupakan unsur yang sangat
penting dalam suatu kegiatan upacara.
Daftar Pustaka
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar